Bahaya Darah Tinggi Pada Wanita Hamil


Bahaya darah tinggi pada wanita hamilBanyak wanita hamil mengalami tekanan darah tinggi  tetapi memiliki bayi yang sehat tanpa ada masalh kesehatan yang serius, namun sebenarnya tekanan darah tinggi bisa saja berbahaya bagi kehamilan dan janin. Wanita memiliki tekanan darah tinggi cenderung memiliki komplikasi tertentu selama kehamilan dari pada mereka yang memiliki tekanan darah normal. Tekanan darah tinggi dapat membahayakan ginjal ibu dan organ tubuh lainnya, dan dapat menyebabkan bayi lahir dengan berat badan lahir rendah serta kelahiran prematur. Dalam kasus yang paling serius, ibu hamil dengan darah tinggi dapat mengembangkan preeklampsia atau toksemia, yang dapat membahayakan kehidupan ibu dan janin.

Bahaya Darah Tinggi Pada Wanita Hamil

Seorang wanita dikatakan mengalami hipertensi pada kehamilan jika tekanan darahnya di atas 140/90 mm Hg. Ada beberapa jenis hipertensi dalam kehamilan, antara lain hipertensi kronik, hipertensi kronik dengan praeklamsia, hipertensi gestasional, praeklamsia dan eklamsia. Bahaya darah tinggi pada wanita hamil
  1. Eklamsia. Eklamsia terjadi ketika ibu hamil dengan kondisi praeklamsia mengalami kejang-kejang. Ini adalah kondisi terparah terkait hipertensi dalam kehamilan
  2. Hipertensi kronik. Jika hipertensi terjadi sebelum Anda hamil atau lima bulan sebelum hamil, maka kondisi tersebut disebut hipertensi kronik. Kebanyakan wanita tidak mengetahui dirinya mengalami hipertensi kronik karena memang tidak menyebabkan gejala. Tanpa disadari hal tersebut akan terbawa ketika Anda hamil.
  3. Hipertensi gestasional. Anda mengalami hipertensi jenis ini ketika tekanan darah Anda meningkat setelah lima bulan kehamilan. Tidak ada kandungan protein pada urine atau tanda-tanda rusaknya organ pada tubuh ketika Anda mengidap hipertensi gestasional.
  4. Hipertensi kronik dengan praeklamsia. Ini adalah kondisi ketika hipertensi kronik tidak ditangani dengan baik atau telah memburuk sehingga lanjut hingga saat hamil. Protein juga ditemukan pada urine Anda.
  5. Praeklamsia. Tiga kondisi yang telah disebutkan di atas berpotensi berubah menjadi preeklamsia, terutama jika tidak ditangani dengan benar. Kondisi ini adalah adanya tekanan darah tinggi yang menyebabkan rusaknya organ pada tubuh dan ditemukannya protein dalam urine. Biasanya kondisi ini terjadi setelah lima bulan kehamilan.
    Tanda-tanda Anda masuk ke tahapan ini adalah merasakan sakit kepala yang tidak tertahankan, nyeri perut bagian atas sebelah kanan, mual, muntah, sesak napas, penglihatan memudar, jumlah urine menurun, kadar trombosit menurun, atau organ hati tidak berfungsi dengan baik.
Hipertensi yang tidak ditangani dengan baik bisaberdampak negatif bagi bayi dan Anda sendiri.
  • Aliran darah ke plasenta berkurang. Kondisi ini bisa membuat bayi dalam kandungan tidak mendapat cukup oksigen dan nutrisi.
  • Pertumbuhan janin terhambat. Janin yang tidak cukup menerima oksigen dan nutrisi bisa menghambat proses pertumbuhan janin, bayi lahir dengan berat badan yang rendah, atau lahir secara prematur.
  • Kelahiran prematur. Demi menyelamatkan nyawa Anda dan si Kecil, kadang dokter akan menyarankan kelahiran bayi secara prematur. Caranya dengan jalan induksi atau operasi caesar. Hal ini dilakukan untuk mencegah eklamsia dan komplikasi lainnya.
  • Abrupsio plasenta. Ini adalah kondisi ketika plasenta terpisah dari dinding dalam rahim sebelum proses persalinan. Jika hal ini terjadi, plasenta Anda akan rusak. Anda juga akan mengalami pendarahan yang hebat. Kedua hal ini bisa membahayakan nyawa Anda dan si Kecil.
  • Bayi meninggal dalam kandungan. Kondisi ini bisa saja terjadi pada masa hamil lima bulan atau lebih. Bayi meninggal dalam kandungan karena tidak mendapatkan hal-hal yang dibutuhkan, seperti oksigen dan nutrisi, selayaknya bayi yang dikandung oleh ibu dengan tekanan darah normal.
  • Berkembangnya penyakit kardiovaskular. Jika Anda sudah sampai pada tahap praeklamsia, maka Anda berisiko terkena penyakit kardiovaskular setelah melahirkan, khususnya jika Anda melahirkan bayi secara prematur. Namun Anda bisa meminimalisasi risiko dengan menjalani gaya hidup sehat usai melahirkan.
Masalah bagi janin dan bayi setelah dilahirkan meliputi:
  • kelahiran prematur (baik secara spontan atau untuk melindungi ibu atau bayi)
  • pembatasan pertumbuhan (janin tidak mendapatkan berat badan tepat)
  • berat badan lahir rendah
  • cairan ketuban rendah (cairan di sekitar bayi dalam rahim)
  • cedera otak dan dalam kasus yang jarang terjadi, kematian
kondisi ini mungkin terdengar menakutkan, karena itu sangat dianjurkan untuk selalu konsultasi dengan dokter terutama buat para ibu yang memiliki status tekanan darah tinggi, hal ini bertujuan untuk mencegah, mendiagnosa, mengelola, dan mengobati masalah potensial yang mungkin terjadi. Bahaya darah tinggi pada wanita hamil

Penyebab Hipertensi Pada Ibu Hamil

  1. Hipertensi essensial atau hiipertensi primer di mana penyebabnya bukan disebabkan oleh adanya gangguan pada jantung atau ginjal, melainkan disebabkan oleh faktor lain misal dikarenakan pola hidup yang tidak sehat; mengalami stress, mengkonsumsi garam yang berlebih, merokok, kebiasaan minuman beralkohol dan kafein, pola makan yang tidak sehat yang mengakibatkan timbunan lemak dan kelebihan berat badan dan adanya faktor keturunan.
  2. Hipertensi sekunder merupakan salah satu Penyebab Tekanan Darah Tinggi Pada Ibu Hamil. Hipertensi sekunder disebabkan oleh adanya gangguan ginjal atau jantung. Preklamsia yang terjadi pada wanita hamil sangat beresiko menyerang mereka yang sebelum kehamilan menderita penyakit darah tinggi kronik, hamil berusia di bawah 20 tahun dan di atas 40 tahun, wanita penderita diabetes, gagal ginjal, lupus, scleroderma, dan wanita hamil yang meningkat tekanan darahnya atau menderita preklamsia saat kehamilan sebelumnya
Penyebab diatas perlu diwaspadai bagi para ibu hamil. Hal tersebut dikarenakan tekanan darah tinggi pada ibu hamil berefek kerusakan yang terjadi pada pembuluh darah wanita hamil yang akan merusak vascularasi darah,sehingga dapat mengganggu bertukarnya oksigen dan nutrisi melalui placenta dari ibu ke janin. Hipertensi juga dapat menurunkan produksi jumlah seni janin sebelum lahir. Hipertensi yang terjadi pada wanita yang sedang hamil bisa mengganggu pertukaran nutrisi pada janin dan bisa menbahayakan ginjal pada janin. Bahaya darah tinggi pada wanita hamil

Cara Menghindari atau Mencegah Hipertensi Pada Ibu Hamil 

  1. Tidak minum minuman keras atau minuman beralkohol
  2. Hentikan kebiasaan merokok merokok, dan jauhi lingkungan perokok.
  3. Hindari stress.
  4. Lakukan pola makan yang sehat, antara lain dengan konsumsi protein tinggi, hindari konnsumsi berlebih makanan yang mengandung hidrat arang dan garam berlebih.
  5. Lakukan olah raga yang sesuai (dianjurkan berkonsultasi, untuk menentukan olah raga yang sesuai untuk ibu hamil).
  6. Dianjurkan mengkonsumsi makanan yang dapat membantu menurunkan tekanan darah seperti cokelat, ikan buah jeruk, buah pisang dan ikan.
  7. Jangan lupa untuk melakukan kontrol ke dokter secara rutin terhadap kehamilan ibu dan ikuti petunjuk yang disarankan.
Cara Menghindari Darah Tinggi Pada Ibu Hamil penting dilakukan selama masa kehamilan dan setelah maupun sebelumnya. Hal tersebut dikarenakan tekanan darah yang tidak normal atau cenderung tinggi atau hipertensi pada kehamilan berisiko terhadap keselamatan dan kesehatan ibu dan janin. Bahaya darah tinggi pada wanita hamil